Jumat, 06 Desember 2013

Gaya Hidup dan Gangguan Makan Pada Remaja

Gaya Hidup dan Gangguan Makan Pada Remaja
    Remaja saat ini banyak mengalami gangguan makan akibat pola hidup mereka  yang mengikuti perkembangan tren masa kini. kebanyakan dari mereka melakukan diet secara berlebihan untuk memiliki tubuh yang ideal, sehingga berdampak negatif bagi kesehatan diri mereka sendiri (Geldard & Geldard, 2011).
Definisi Remaja
     “Remaja adalah sebuah tahapan dalam kehidupan seseorang yang berada di antara tahap kanak-kanak dengan tahap dewasa” (Geldard & Geldard, 2011, h. 5). Remaja merupakan masa pembentukan identitas baru, pada masa ini remaja berusaha keras untuk menemukan jati dirinya. Mereka akan mulai mencari karakter yang unik untuk membedakan dirinya dengan orang lain. Perubahan dari segi fisik maupun psikologis mulai terlihat tetapi belum sempurna, tingkat emosional mereka pun belum stabil, sehingga mudah sekali mereka terpengaruhi oleh lingkungan sekitar (Geldard & Geldard, 2011).
     Tahap perkembangan. Pada tahap perkembangannya remaja akan mengalami perubahanan secara fisik, dan emosional.  “Setiap orang mengalami beberapa proses perkembangan secara bersamaan” (Gunarsa, 2001, h. 12).  Perubahan secara fisik sering menimbulkan kekesalan terutama pada remaja putri karena tingkat hormon pada masa ini berada dalam tingkat yang tinggi. Remaja akan mengalami perubahan tinggi badan, berat badan, kekuatan berkembang secara seksual, dan perubahan dalam penampilannya. Tentu saja perubahan ini akan mengalami permasalahan bagi remaja yang malu dan tidak nyaman dengan keadaan dirinya. Perubahan secara emosional, peningkatan hormon seksual dapat mempengaruhi tingkat emosional remaja karena hormon merupakan faktor yang menyebabkan perubahan suasana hati. Perubahan emosional yang tidak stabil ini tentu saja akan menimbulkan dampak tertentu bagi dirinya (Geldard & Geldard, 2011).

Pandangan Remaja Terhadap Bentuk Fisiknya
      Bandura (dikutip dalam Gunarsa & Gunarsa, 2004) berpendapat bahwa “Masa remaja menjadi suatu masa pertentangan dan ‘pemberontakan’ karena terlalu menitik beratkan ungkapan-ungkapan bebas dan ringan dari ketidak patuhan.” Perubahan fisik pada remaja menimbulkan pandangan tertentu bagi mereka terutama remaja putri. Gaya hidup mereka yang cenderung mengikuti tren dapat menimbulkan dampak negatif untuk dirinya. Pengaruh media cetak dan televisi yang menampilkan model perempuan cantik dan langsing memberikan pandangan bahwa kelebihan berat badan adalah hal yang buruk dan patut  dicemooh.
     Perubahan-perubahan fisik yang dialami seperti wajah berminyak, tumbuh jerawat, meningkatnya berat badan seolah-olah masalah yang sulit diatasi, sehingga seringkali mereka menggunakan cara instan yang menimbulkan dampak negatif bagi dirinya sendiri, seperti melakukan diet berlebihan untuk menurunkan berat badan agar diterima oleh teman-teman dan lingkungan sekitarnya. Gaya hidup seperti ini dapat menyebabkan gangguan makan untuk mewujudkan obsesi mereka sebagai seseorang yang dapat diterima di manapun (Geldard  & Geldard, 2011).
     Jenis-jenis gangguan makan. Ada beberapa jenis gangguan makan yaitu (a) bulimia nervosa, (b) anorexia nervosa, dan (c) binge eating disorder. Pertama, bulimia nervosa umumya terjadi pada wanita. Penderita gangguan makan ini cenderung makan secara berlebihan kemudian memuntahkannya kembali dengan menggunakan tangannya atau obat pencahar. Kedua, anorexia nervosa penderita gangguan makan ini memiliki keinginan kuat untuk kurus dengan menahan lapar. Penderitanya kebanyakan adalah wanita, mereka makan dengan jumlah yang sangat sedikit untuk menurunkan berat badan. Ketiga, binge eating disoder adalah perilaku konsumtif berlebihan pada makanan. Tidak seperti bulimia dan anorexia, penderita binge eating ini cenderung makan secara berlebihan, cepat, dan tidak terkontrol yang disebabkan oleh stres, faktor genetik, serta obat (King, 2013).

Penyebab
Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab gangguan makan yaitu
     Faktor keluarga. Penderita anorexia dan bulimia cenderung berasal dari keluarga memiliki gangguan yang sama. Adanya gangguan hubungan antara orangtua dan anak yang membentuk sifat perfeksionis atau rasa percaya diri rendah, sehingga mudah sekali untuk mengalami gangguan makan tersebut.
     Faktor sosial. Banyaknya media masa yang menampilkan model wanita cantik dan langsing memunculkan pandangan bahwa wanita cantik adalah wanita yang memiliki tubuh langsing. Hal ini membuat seseorang melakukan diet untuk menurunkan berat badannya.
     Faktor pribadi. Adanya rasa kurang percaya diri dan ketakutan menjadi gemuk, serta pandangan yang salah tentang bentuk tubuh ideal memiliki potensi yang tinggi untuk mengalami gangguan makan. Penderita gangguan makan, melakukan diet untuk mengurangi kecemasan mereka terhadap tubuh yang gemuk (“Gangguan Makan”, n.d.).

Dampak
   Gangguan makan yang terjadi menimbulkan berbagai dampak negatif bagi kesehatan. Penurunan berat badan merupakan dampak utama yang disebabkan oleh gangguan makan. Tubuh akan kehilangan lemak dan otot yang membuat penderita semakin kurus dan lemah. Dampak psikologis pun akan diterima penderita, mereka akan mengalami depresi, gelisah, mudah marah, merasa gemuk, penurunan kepercayaan diri dan sebagainya. Selain itu gangguan makan ini memiliki dampak jangka panjang yaitu gangguan tumbuh kembang, gangguan kesuburan dan osteoporosis (“Dampak Psikologis dari Anorexia”, 2013).

Simpulan
   Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa  gaya hidup remaja yang cenderung mengikuti tren dapat menyebabkan gangguan makan pada dirinya. Pandangan yang salah mengenai bentuk tubuh ideal, rentan sekali menyebabkan mereka melakukan penurunan berat badan secara ekstrem sehingga membahayakan kesehatan fisik serta psikologis mereka.
















DAFTAR PUSTAKA
Gangguan Makan.  (n.d). Diunduh dari http://psikologiabnormal.wix.com/gangguanmakan#!hindari
Gunarsa, Y. S. D., & Gunarsa, S. D. (2001). Psikologi untuk muda-mudi. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Gunarsa, S. D., & Gunarsa, Y. S. D. (2004). Psikologi perkembangan anak dan remaja. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Geldard, K., & Geldard, D. (2011). Konseling remaja: Pendekatan proaktif untuk anak muda (E. Adinugraha, Penerj.). Yogyakarta: Pustaka Pelajar. (Karya asli diterbitkan tahun 2010)
King, L. A. (2013). The science of psychology: An appreciative view (2nd ed.). New York, NY: Mc

Tidak ada komentar:

Posting Komentar