Gaya
Hidup dan Gangguan Makan Pada Remaja
Remaja
saat ini banyak mengalami gangguan makan akibat pola hidup mereka yang mengikuti perkembangan tren masa kini. kebanyakan
dari mereka melakukan diet secara berlebihan untuk memiliki tubuh yang ideal,
sehingga berdampak negatif bagi kesehatan diri mereka sendiri (Geldard &
Geldard, 2011).
Definisi
Remaja
“Remaja
adalah sebuah tahapan dalam kehidupan seseorang yang berada di antara tahap
kanak-kanak dengan tahap dewasa” (Geldard & Geldard, 2011, h. 5). Remaja
merupakan masa pembentukan identitas baru,
pada masa ini remaja berusaha keras untuk menemukan jati dirinya. Mereka
akan mulai mencari karakter yang unik untuk membedakan dirinya dengan orang
lain. Perubahan dari segi fisik maupun psikologis mulai terlihat tetapi belum
sempurna, tingkat emosional mereka pun belum stabil, sehingga mudah sekali
mereka terpengaruhi oleh lingkungan sekitar (Geldard & Geldard, 2011).
Tahap perkembangan. Pada tahap perkembangannya remaja akan
mengalami perubahanan secara fisik, dan emosional. “Setiap orang mengalami beberapa proses
perkembangan secara bersamaan” (Gunarsa, 2001, h. 12). Perubahan secara fisik sering menimbulkan
kekesalan terutama pada remaja putri karena tingkat hormon pada masa ini berada
dalam tingkat yang tinggi. Remaja akan mengalami perubahan tinggi badan, berat
badan, kekuatan berkembang secara seksual, dan perubahan dalam penampilannya.
Tentu saja perubahan ini akan mengalami permasalahan bagi remaja yang malu dan
tidak nyaman dengan keadaan dirinya. Perubahan secara emosional, peningkatan
hormon seksual dapat mempengaruhi tingkat emosional remaja karena hormon
merupakan faktor yang menyebabkan perubahan suasana hati. Perubahan emosional
yang tidak stabil ini tentu saja akan menimbulkan dampak tertentu bagi dirinya (Geldard
& Geldard, 2011).
Pandangan
Remaja Terhadap Bentuk Fisiknya
Bandura (dikutip dalam Gunarsa &
Gunarsa, 2004) berpendapat bahwa “Masa remaja menjadi suatu masa pertentangan
dan ‘pemberontakan’ karena terlalu menitik beratkan ungkapan-ungkapan bebas dan
ringan dari ketidak patuhan.” Perubahan fisik pada remaja menimbulkan pandangan
tertentu bagi mereka terutama remaja putri. Gaya hidup mereka yang cenderung
mengikuti tren dapat menimbulkan dampak negatif untuk dirinya. Pengaruh media
cetak dan televisi yang menampilkan model perempuan cantik dan langsing memberikan
pandangan bahwa kelebihan berat badan adalah hal yang buruk dan patut dicemooh.
Perubahan-perubahan fisik yang dialami seperti wajah berminyak, tumbuh
jerawat, meningkatnya berat badan seolah-olah masalah yang sulit diatasi,
sehingga seringkali mereka menggunakan cara instan yang menimbulkan dampak
negatif bagi dirinya sendiri, seperti melakukan diet berlebihan untuk
menurunkan berat badan agar diterima oleh teman-teman dan lingkungan sekitarnya.
Gaya hidup seperti ini dapat menyebabkan gangguan makan untuk mewujudkan obsesi
mereka sebagai seseorang yang dapat diterima di manapun (Geldard & Geldard, 2011).
Jenis-jenis gangguan makan. Ada beberapa jenis gangguan makan
yaitu (a) bulimia nervosa, (b) anorexia nervosa, dan (c) binge eating disorder. Pertama, bulimia nervosa umumya terjadi pada wanita. Penderita gangguan makan ini
cenderung makan secara berlebihan kemudian memuntahkannya kembali dengan
menggunakan tangannya atau obat pencahar. Kedua, anorexia nervosa penderita gangguan makan ini memiliki keinginan
kuat untuk kurus dengan menahan lapar. Penderitanya kebanyakan adalah wanita,
mereka makan dengan jumlah yang sangat sedikit untuk menurunkan berat badan.
Ketiga, binge eating disoder adalah
perilaku konsumtif berlebihan pada makanan. Tidak seperti bulimia dan anorexia,
penderita binge eating ini cenderung makan
secara berlebihan, cepat, dan tidak terkontrol yang disebabkan oleh stres, faktor
genetik, serta obat (King, 2013).
Penyebab
Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab gangguan makan yaitu
Faktor keluarga. Penderita anorexia dan bulimia cenderung berasal dari keluarga
memiliki gangguan yang sama. Adanya gangguan hubungan antara orangtua dan anak yang
membentuk sifat perfeksionis atau rasa percaya diri rendah, sehingga mudah
sekali untuk mengalami gangguan makan tersebut.
Faktor sosial. Banyaknya media masa yang menampilkan
model wanita cantik dan langsing memunculkan pandangan bahwa wanita cantik
adalah wanita yang memiliki tubuh langsing. Hal ini membuat seseorang melakukan
diet untuk menurunkan berat badannya.
Faktor pribadi. Adanya rasa kurang percaya diri dan
ketakutan menjadi gemuk, serta pandangan yang salah tentang bentuk tubuh ideal
memiliki potensi yang tinggi untuk mengalami gangguan makan. Penderita gangguan
makan, melakukan diet untuk mengurangi kecemasan mereka terhadap tubuh yang
gemuk (“Gangguan Makan”, n.d.).
Dampak
Gangguan
makan yang terjadi menimbulkan berbagai dampak negatif bagi kesehatan.
Penurunan berat badan merupakan dampak utama yang disebabkan oleh gangguan
makan. Tubuh akan kehilangan lemak dan otot yang membuat penderita semakin
kurus dan lemah. Dampak psikologis pun akan diterima penderita, mereka akan
mengalami depresi, gelisah, mudah marah, merasa gemuk, penurunan kepercayaan
diri dan sebagainya. Selain itu gangguan makan ini memiliki dampak jangka
panjang yaitu gangguan tumbuh kembang, gangguan kesuburan dan osteoporosis (“Dampak
Psikologis dari Anorexia”, 2013).
Simpulan
Berdasarkan
uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa gaya hidup remaja yang
cenderung mengikuti tren dapat menyebabkan gangguan makan pada dirinya.
Pandangan yang salah mengenai bentuk tubuh ideal, rentan sekali menyebabkan mereka
melakukan penurunan berat badan secara ekstrem sehingga membahayakan kesehatan fisik
serta psikologis mereka.
DAFTAR
PUSTAKA
Dampak Psikologis dari Anorexia. (2013). Diunduh dari http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=298328:dampak-psikologis-dari-anoreksia
Gunarsa,
Y. S. D., & Gunarsa, S. D. (2001). Psikologi
untuk muda-mudi. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Gunarsa,
S. D., & Gunarsa, Y. S. D. (2004). Psikologi
perkembangan anak dan remaja. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Geldard,
K., & Geldard, D. (2011). Konseling
remaja: Pendekatan proaktif untuk anak muda (E. Adinugraha, Penerj.).
Yogyakarta: Pustaka Pelajar. (Karya asli diterbitkan tahun 2010)
King, L. A. (2013). The science of psychology: An appreciative view
(2nd ed.). New York, NY: Mc
Tidak ada komentar:
Posting Komentar