Rabu, 13 November 2013

now, i lost the figure of your

     Hari itu tepat tanggal 11 november 2013, sejak aku membuka mata di pagi hari, terbentuk niatan untuk kembali ke rumah lebih awal. Tetapi niat itu terhalang karena jadwal kuliah yang sedang ku jalani. Waktu menunjukkan pukul 23.00 WIB, aku sampai di kota kelahiran ku. Saat aku hendak masuk ke dalam rumah, seseorang menghampiriku dan memberitahu bahwa keluarga ku sedang berada di rumah sakit bersamanya.

     Ruangan itu, ruangan yang selalu ku takutkan saat itu ditempati olehnya. terbaring lemah, detak jantung yang lemah, dan rintihan nafas itu membuatku terpaku serta meneteskan air mata. ya menangis, tangisan yang tidak dapat mengubah apapun pada saat itu aku keluarkan.aku hanya bisa memanggilnya tanpa ada jawaban yang keluar dari mulutnya, aku hanya bisa menciumnya tanpa ada balasan yang ia lakukan untuk ku, tak bergerak, tak bersuara itu yang ku tau.

    12 november 2013, niatan itu kembali lagi dan semakin kuat sehingga membuatku tak mampu berpikir banyak, hanya kata itu "pulang" yang terus berada dalam otakku.senja kelabu dan rintik-rintik hujan menemani perjalanan pulang. tepat pukul 19.00 aku tiba di tempat itu, sebuah rumah dengan bendera berwarna kuning di pagarnya dan segerumunan orang di sana. aku berbegas masuk ke dalam lalu melihat seseorang berbaring dengan tubuh dan wajah yang ditutupi kain. dia, dia wanita itu, wanita yang memiliki 10 orang anak, wanita yang membiayai keluarganya dengan usaha keras tanpa mengeluh, wanita yang di panggil "ibu" oleh ayahku, wanita yang selalu menceritakan kehidupan ayahku di masa kecil, wanita yang menasehatiku untuk jadi seseorang yang kuat, wanita yang merengek untuk menemaniku ke surabaya, wanita yang meminta " teh, periksa mbah dong", wanita yang selalu memberikan aku hadiah padahal dia sudah tak memiliki apa-apa, wanita yang selalu meminta untuk dicium walaupun terkadang mendapat tolakan, wanita yang selalu bertanya "teteh udah makan?" saat aku tiba di kediamannya. kini raganya sudah tiada, raga yang biasanya memelukku saat aku datang.

maafkan aku, atas semua kesalahan yang ku perbuat. maafkan aku yang belum bisa mewujudkan keinginanmu. now i lost the figure of your, thank you for all that you give to me. selamat jalan, mbah.

2 komentar: